Tudang Sipulung, Cara Petani Sulsel Dongkrak Produktivtas Pertanian

  • Bagikan

WartaTani.co – Perencanaan yang matang amat dibutuhkan untuk mencapai target yang ingin dicapai. Tanpa planing, mustahil hasilnya bisa memuaskan. Pun dengan sektor pertanian, merencanakan masa tanam sangat vital peranannya bagi para petani.

Di Kecamatan Paleteang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, para petani melakukan ‘Tudang Sipulung’. Kegiatan ini sama halnya dengan musyawarah untuk menghadapi musim tanam yang biasanya berlangsung pada Oktober hingga Maret. Giat dilaksanakan Selasa lalu di kantor kecamatan setempat.

“Jadi Tudung Sipulung ini salah satu langkah merumuskan perencanaan masa tanam. Tentunya supaya lebih efektif. Apalagi para petani di sini sebelumnya sudah dilatih melaui program IPDMIP,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pinrang, Andi Tjalo Kerrang melalui keterangan tertulisnya, Jumat (5/11).

“Total ada 70 orang yang hadir,” lanjut Andi.

Andi mengatakan bahwa Tudang Sipulung ini adalah kegiatan yang harus dilaksanakan sebelum petan-petani melakukan turun sawah. Dimana dalam kegiatan ini, pemerintah akan berupaya memadukan kearifan lokal dengan teknologi.

“Melalui Musyawarah Tudang Sipulung ini, diharapkan bisa menghasilkan dan melaksanakan kesepakatan bersama terutama untuk jadwal tanam tanpa mengindahkan kearifan-kearifan lokal yang telah kita miliki,” katanya.

Kepala Bidang Penyuluhan M. Syukur menambahkan selain harus berpedoman dengan kesepakatan bersama agar produksi hasil tani meningkat, mereka juga harus memastikan ketersediaan saprodi terutama pupuk dan mewaspadai beberapa hama.

“Selain mengevaluasi pola dan jadwal tanam serta ketersediaan sarana produksi, kita juga harus mewaspadai dampak dari perubahan iklim yang bisa menjadi pemicu adanya serangan OPT,” jelasnya.

Syukur menjelaskan kalau faktor utama dari sebuah keberhasilan usaha tani adalah kebersamaan dan gotong royong. Olehnya itu, pemerintah dan petani harus selalu dapat bersinergi untuk meningkatkan hasil menuju petani yang sejahtera.

Berita Terkait  Belum Ada Pesaing Ekspor, Indonesia Lepas Dua Ribu Anggrek ke Jepang

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa ada banyak tantangan dalam membangun pertanian. Karena ketika bicara pembangunan pertanian, maka secara langsung dihadapkan pada upaya menyediakan pangan 267 juta jiwa penduduk Indonesia, meningkatkan kesejahteraan petani dan meningkatkan ekspor komoditas pertanian.

“Untuk mewujudkan tujuan tersebut, bukan pekerjaan yang mudah, kita perlu konsentrasi dan bergerak bersama karena kita dihadapkan berbagai tantangan pembangunan pertanian diantaranya; dampak perubahan iklim yang akan berbengaruh terhadap produksi dan produksivitas hasil pertanian, krisis energi dan pangan dunia, perkembangan pasar bebas yang menuntut adanya persaingan terhadap produk-produk pertanian,” jelas Dedi.

Menurut Dedi, semua ini diperlukan pendekatan yang komprehensif agar semua aktivitas pembangunan pertanian dapat sesuai dengan kondisi yang ada dan agroklimat masing-masing daerah. “Salah satunya melalui pendekatan teknologi. IPTEK dan Sarpras (Sarana dan Prasarana) ini satu dari tiga faktor kunci pengungkit produktivitas pertanian selain regulasi dan aspek SDM penyuluh,” beber alumnus Institut Pertanian Bogor tersebut.

Semua itu, lanjut Dedi, dimulai dengan pembangunan SDM yang mumpuni. SDM yang mampu meguasai seluk beluk pengembangan usaha tani dari hulu sampai hilir, SDM yang tidak bergantung pada bantuan tetapi Berdikari, dan SDM yang berdayasaing.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menjelaskan kunci dari peningkatan kesejahteraan petani adalah memperkuat hilirisasi pertanian dan mengembangkan pertanian modern. Dijelaskannya, ada beberapa ciri pertanian modern. Di antaranya penggunaan varietas unggul dengan potensi hasil tinggi (High Yiedling Variety), Pemanfaatan sarana prasarana pertanian modern (Alsintan), Pemanfaatan IOT melalui smart agriculture dan SDM pertanian yang unggul yang mampu menggenjot produktivitas;

“Maka dari itu, pengelola dan penyuluh pendamping di lokasi IPDMIP harus mempunyai semangat untuk meningkatkan kapasitas penguasaan teknologi bagi penyuluh maupun petani.
Manfaatkan segala media informasi untuk dapat mempublikasikan keberhasilan kegiatan IPDMIP,” jelasnya.

Berita Terkait  Teknologi Budidaya Mangga Off Season Petani Bikin Lombok Utara Untung

“Saya mengharapkan segenap pengelola dan penyuluh pendamping di lokasi IPDMIP untuk mengembangkan kapasitas usaha poktan dan gapoktan untuk menjadikannya korporasi petani,” tuutp SYL-sapaannya-. (suardi/ez)

  • Bagikan