Program PLEK Bantu Rumah Tangga Petani Kelola Keuangan

  • Bagikan

WartaTani.co – Sebanyak 114 orang peserta yang berasal dari 74 Rumah Tangga petani Program IPDMIP di Kabupaten Bima–NTB mengikuti kegiatan Pelatihan Literasi dan Edukasi Keuangan (PLEK). Kegiatan berlangsung 7-8 September 2021.

Kepala Seksi Pembinaan Kelembagaan Penyuluhan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima, Basri menjelaskan bahwa kegiatan PLEK ini dilaksanakan di 6 lokasi, yaitu di BPP Kecamatan Lambu, Sape, Madapangga, Bolo, Wera dan Palibelo. Adapun target peserta PLEK di Kabupaten Bima tahun 2021 sebanyak 168 orang yang berasal dari 84 rumah tangga petani. Sebanyak 54 orang (27 rumah tangga) diantaranya telah mengikuti kegiatan PLEK di Balai Pelatihan Pertanian dan Perkebunan Propinsi NTB 19–21 Agustus 2021.

“Fasilitator kegiatan ini adalah para Penyuluh yang telah memperoleh Pelatihan PLEK yang difasilitasi Program IPDMIP BPPSDMP Kementerian Pertanian,” ujar dia melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (11/9).

Kepala BPP Kecamatan Bolo, Ibrahim menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan PLEK ini. Menurutnya, kegiatan PLEK sangat penting untuk mengedukasi para petani tentang pengelolaan keuangan usahatani tingkat rumah tangga, juga sangat bermanfaat dalam mendukung pencapaian indikator kinerja penyuluh, khususnya terkait dengan percepatan proses diseminasi informasi kepada para petani.

“Terima kasih kepada Kementerian Pertanian yang telah memfasilitasi berbagai kegiatan yang mendukung upaya peningkatan kapasitas SDM para petani dan penyuluh, salah satunya melalui kegiatan PLEK Program IPDMIP ini,” tuturnya

Salah seorang fasilitator PLEK, Endang Mastari menjelaskan bahwa materi pokok yang disampaikan pada kegiatan PLEK tentang produk dan layanan keuangan di sektor pertanian, KUR dan Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP), pengelolaan usaha tani serta pengeloaan keuangan rumah tangga.

Endang menilai PLEK sangat strategis dalam upaya mengeduksi petani tentang pentingnya tata kelola keuangan usaha tani tingkat rumah tangga. “Karena pada umumnya para petani belum terlalu memahami tentang bagaimana cara pengelolaan keuangan usaha tani secara baik, khususnya terkait dengan pencatatan aktifitas usaha tani,” tuturnya.

Berita Terkait  Jadi Sentra Produksi Pangan, Kementan Siap Genjot SDM Petani Milenial di Konawe Selatan

Hal senada diungkapkan salah seorang peserta pelatihan, Muhtar. Pria 48 tahun itu menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan kegiatan PLEK yang difasilitasi Program IPDMIP ini. Didampingi istrinya, Siti Sarah (46 tahun), warga berasal Poktan Mangge Kompo Desa Sanolo Kecamatan Bolo ini mengatakan, PLEK merupakan pelatihan “model baru” baginya, karena melibatkan pasangan suami–istri rumah tangga petani sebagai peserta.

“Alhamdulillah, melalui kegiatan PLEK ini, saya bersama istri memperoleh tambahan pengetahuan baru tentang cara mengelola keuangan usahatani ditingkat rumah tangga” tuturnya penuh semangat.

Pun dengan Sarafiah (55 tahun), salah seorang peserta dari unsur wanita tani yang berasal dari Poktan La Kalo Desa Monggo Kecamatan Madapangga. Diakuinya melalui Program IPDMIP, para petani tidak hanya difasilitasi dengan kegiatan Sekolah Lapang tentang teknik budidaya, tetapi dibekali pula dengan pengetahuan tentang bagaimana cara mengelola keuangan usahatani ditingkat rumah tangga melalui kegiatan Pelatihan Literasi dan Edukasi Keuangan.

“Materi yang kami peroleh dari kegiatan PLEK ini, akan menjadi bekal dalam mengelola keuangan usahatani kami. Makin masif pelatihan seperti ini, pertanian kita semakin maju,” tutur Sarafiah didampingi suaminya Nurdin (57 tahun) penuh optimis.

Pelaksanaan kegiatan PLEK ini selain disupervisi oleh unsur DPIU, KJF dan Konsultan Daerah IPDMIP Kabupaten Bima, juga melibatkan pihak NPIU Program IPDMIP.

Supervisi kegiatan PLEK di BPP Kecamatan Bolo dan Madapangga, perwakilan NPIU Program IPDMIP, Mugi Lestari menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan PLEK merupakan bagian dari upaya Kementerian Pertanian dalam rangka meningkatkan pemahaman petani tentang pengelolaan keuangan usaha tani. Termasuk akses produk dan layanan keuangan pertanian dengan menggunakan pendekatan keluarga sebagai tim, di mana pesertanya merupakan pasangan suami-istri.

“Kegiatan PLEK ini berlangsung sukses. Terlihat dari tingginya partisipasi dan keaktifan para peserta saat mengikuti kegiatan PLEK serta penguasaan dan teknik penyampaian materi oleh fasilitator yang sangat baik” pungkasnya.

Berita Terkait  Bantu Warga, Kementan Salurkan Bantuan Sembako Hingga Benih Sayur dan Buah

Sementara, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo optimis bahwa kegiatan IPDMIP berjalan maksimal, dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat perdesaan, khususnya bagi petani dalam mendukung pencapaian ketahanan pangan.

“Dengan IPDMIP, kita akan menggenjot produktivitas pertanian, khususnya di daerah irigasi. Diharapkan pendapatan petani naik sehingga kesejahteraan petani juga meningkat,” kata Mentan Syahrul.

Hal senada diungkapkan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) Dedi Nursyamsi. Menurutnya, IPDMIP harus berperan mendorong proses transformasi dari sistem pertanian tradisional menjadi modern. Untuk itu, SDM-nya harus digarap lebih dahulu.

“Mereka adalah petani, penyuluh, petani milenial melalui pelatihan,” kata Dedi.

Sistem pertanian tradisional, katanya, dicirikan oleh produktivitas yang rendah, penggunaan varietas lokal, dikerjakan secara manual atau dengan bantuan tenaga ternak. Sistem pertanian ini belum memanfaatkan mekanisasi pertanian serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

“Pertanian modern dicirikan masifnya varietas berdaya hasil tinggi, menerapkan mekanisasi dan pemanfaatan teknologi era industri 4.0,” pungkas Dedi.

Sebagai informasi program IPDMIP dilaksanakan di 74 Kabupaten, 16 Provinsi (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT)). Program ini bekerjasama lintas sektor dengan Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan dan masyarakat petani serta semua pihak yang terkait baik di dalam dan sekitar daerah Irigasi.(*)

  • Bagikan