Kementan Catat Ekspor Pertanian Sulbar Meningkat Signifikan

  • Bagikan
WartaTani.co – Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Mamuju mencatat kenaikan fasilitasi ekspor komoditas pertanian asal Provinsi Sulawesi Barat pada semester I tahun 2021, yakni sebanyak 28 kali dibandingkan periode sama ditahun sebelumnya yang hanya 21 kali saja.
Hal ini berdampak linear dengan peningkatan volume sebesar 2,47% dan nilai ekspor yang juga meroket hingga 60,86%, dengan capaian Rp. 1,8 triliun, dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya mampu meraup Rp 1,1 triliun.
“Lonjakan yang sangat menggembirakan, terlebih pada masa pandemi yang masih terus berlangsung, ” kata Kepala Karantina Pertanian Mamuju, Agus Karyono melalui keterangan tertulisnya, Rabu (14/7).
Agus menyebutkan, komoditas ekspor andalan Sulbar masih didominasi oleh turunan sawit. Selain RBD Palm Olein (Refined, Bleached, dan Deodorized) dan RBD Palm Stearin, terdapat juga penambahan ragam komoditas yang diekspor yaitu Palm Fatty Acid Distilate (PFAD) dan cangkang kelapa sawit.
“Sesuai dengan tugas, melalui para pejabat karantina, kami melakukan serangkaian tindakan karantina guna menjamin komoditas pertanian tersebut sehat, aman bebas dari hama dan penyakit dan memenuhi persyaratan sanitari dan fitosanitari negara tujuan,” papar Agus.
Masih menurutnya, pada tahun lalu, dari catatan IQFAST Badan Karantina Pertanian (Barantan), komoditas ekspor asal Sulbar hanya dikirim ke Tiongkok, namun untuk tahun ini terdapat penambahan tiga negara tujuan ekspor, yaitu Pakistan, Philipina dan Jepang.
“Patut kita apresiasi para pelaku ekspor, tidak mudah untuk memasarkan produk hingga ke beberapa negara dengan regulasi perkarantinaan yang ketat seperti di Jepang, apalagi di tengah kondisi pandemi, dan Sulbar mampu,” jelasnya lagi.
IMACE Peta Komoditas Pertanian Ekspor
Bambang, Kepala Barantan menanggapi positf hal tersebut. Menurutnya, Barantan sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terkait peningkatan ekspor pertanian tiga kali lipat (GRATIEKS) terus melakukan dorongan ekspor komoditas pertanian melalui berbagai aspek.
Diantaranya menggunakan peta komoditas pertanian ekspor IMACE guna mendorong peningkatan ekspor melalui penambahan ragam komoditas ekspor, negara tujuan baru, eksportir baru serta penambahan volume dan frekuensi ekspor.
Upaya tersebut dilakukan melalui penderasan informasi potensi ekspor, pendampingan pemenuhan persyaratan sanitari dan fitosanitari, juga pendampingan teknis lain yang bekerjasama dengan dinas dan pemangku kepentingan lainya.
“Kami terus menggencarkan ekspor melalui berbagai kegiatan GRATIEKS, penderasan informasi, bekerjasama dengan entitas terkait baik di pusat maupun daerah. Harapannya agar dapat menambah kemanfaatan atau kesejahteraan bagi petani dan pelaku agribisnis,” pungkas Bambang.
Berita Terkait  KTNA: Stabilisasi Harga Pakan dan Telur, Ini Solusinya
  • Bagikan