Mentan: Hidupnya Pertanian, Hidupnya Bangsa

  • Bagikan
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo

WartaTani.co – Pameo Jawa klasik, “Gemah Ripah Loh Jinawi” atau tenteram dan makmur serta sangat subur tanahnya, masih terus tertanam dari generasi ke generasi bangsa ini.

Sebagai negara yang bertumpu pada sektor agraria, banyak sekali komoditas yang dihasilkan mulai dari beras, gula tebu, jagung, buah-buahan, hingga perkebunan kelapa sawit, teh, dan kopi.

Termasuk potensi peternakannya seperti ayam, sapi, hingga budi daya ikan/udang.

Namun, apakah kondisi tersebut masih seindah yang dilihat dan dibayangkan? Indonesia memang dikenal sebagai negara agraris sekaligus salah satu negara maritim terbesar di dunia.

Sebagian besar penduduk masih bekerja di sektor pertanian. Tapi apakah generasi muda atau kalangan milenial masih mau berkubang ke sawah dan kebun?

Hasil kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) justru memperkirakan, lambat laun profesi petani akan menghilang pada 2063.

Bagaimana bisa? Hal itu karena para pekerja di sektor pertanian yang semakin menurun, dari tahun ke tahun. Mia Amalia, Plt Direktur Pembangunan Daerah Kementerian PPN/Bappenas, mengutarakan bahwa pada 1976 rasio pekerja Indonesia dalam bidang pertanian mencapai hingga 65,8% dari total jumlah pekerja. Tapi lambat laun jumlahnya tinggal sekitar 28% pada 2019.

Dikatakan, pekerja sektor pertanian berangsur beralih ke sektor lainnya. Seperti yang terlihat dari sektor jasa yang pada 1976 hanya 23,57% menjadi 48,91% di 2019. Adapun pekerja dari sektor industri juga meningkat dari 8,86% di 1976 menjadi 22,45% pada 2019.

Gelombang urbanisasi memicu alih fungsi lahan menjadi hunian perkotaan. Dalam waktu enam tahun, lahan pertanian telah menyusut dari 7,75 juta ha di 2013 menjadi 7,45 juta ha di 2019.

Penyusutan akan diperkirakan semakin cepat terjadi karena pada 2045 penduduk yang tinggal di perkotaan akan diperkirakan mencapai 67,1% atau 68,3 juta orang. Dari data itulah, Bappenas menggunakan tren tersebut dalam perhitungan linear menghasilkan lenyapnya profesi petani di 2063.

Berita Terkait  KKP Harap Pandemi Corona Ubah Perilaku Warga soal Bahaya Sampah

Urbanisasi tak terkendali meningkatkan angka kemiskinan dan kerentanan suplai pangan. Krisis pangan bisa terjadi jika sektor pertanian dan sumber dayanya tidak dibenahi.

Pemerintah tentu tidak tinggal diam menyikapi soal ini. Kementerian Pertanian (Kementan) belakangan ini intens melakukan percepatan regenerasi petani. Saat ini generasi milenial bidang pertanian tak hanya sekadar bertani, melainkan juga cerdas berwirausaha tani dengan memanfaatkan teknologi digital.

Belum lama ini, Kementerian Pertanian meluncurkan Program Gerakan Petani Milenial di Manokwari, Papua Barat, Kamis (20/5/2021). Program Petani Milenial bukan hanya dilakukan di Papua dan Papua Barat. Tapi dilakukan pula di Aceh, Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Target program ini adalah terciptanya 100.000 Petani Milenial di 10 provinsi dengan memberikan pelatihan secara bertahap, termasuk permodalan, teknologi digital, kemampuan berbisnis dan UMKM, dan kemampuan menjadi eksportir komoditas, yang akan didukung oleh lintas kementerian dan lembaga lainnya.

Program tersebut disambut antusias. Begitu pendaftaran dibuka secara daring oleh Pemprov Papua Barat, tercatat 1.023 orang mendaftarkan diri untuk menjadi Petani Milenial dalam waktu beberapa jam saja.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan, hidupnya pertanian adalah hidupnya bangsa, termasuk generasi milenial. Saatnya sekarang berbicara pertanian yang maju, mandiri, dan modern.

Ketua Duta Petani Milenial Sandi Octa Susila mengatakan sektor pertanian merupakan sektor keren. Pertanian menjadi satu-satunya sektor yang tangguh di tengah pandemi Covid-19. Sayangnya, masih banyak pandangan orang menilai pertanian itu kumuh, lusuh, dan untungnya kecil.

“Kita terlalu lama terkunci paradigma konservatif. Di tangan milenial itu diubah. Ada aplikasi kita gunakan dari sisi internet of things (IoT). Kalau dulu delapan hektare harus keliling, sekarang kita lihat dari dashboard website. Kalau mau lihat detail, kita terbangkan drone. Kita cek lebih detail,” kata Sandi dalam sebuah webinar.

Berita Terkait  Dies Natalis FH Unhas, Mentan SYL Singgung Pangan

Sandi selama ini menyuplai produk hortikultura untuk pasar modern. Di tahun kelimanya ia memiliki mitra 385 petani dari awalnya hanya 5–15 petani. Ia juga mengelola 94 hektare lahan melalui program edukasi bersama.

Memakai aplikasi digital juga memutus rantai distribusi produk pertanian dari sembilan mata rantai menjadi hanya tiga mata rantai. Dari pemotongan itu, ada empat tahapan yang semula ia kerjakan, kini diserahkan kepada petani. Hasilnya, petani memiliki margin lebih dan pengiriman yang lebih efisien. “Misalnya kangkung harganya Rp1.500. Kami bisa jadi Rp4.500 tapi harus ada sortasi atau grading, dibersihkan, disimpan, dan distribusi. Petani milenial mem-bridging itu semua,” tukasnya.

Menggeliatnya petani milenial setidaknya menjadi harapan akan masa depan sektor pertanian lebih cerah meski dengan segala tantangan ke depannya. Di tengah pandemi Covid-19, sektor pertanian tetap tumbuh 2,95% di kuartal I-2021. Pertumbuhan positif ini melanjutkan tren yang dicapai tahun lalu yang tumbuh 1,75% di saat sektor-sektor lain mengalami kontraksi.

Adapun ekspor komoditas pertanian juga mengalami kenaikan dari Rp390,16 triliun di 2019 menjadi Rp451,77 triliun atau tumbuh 15,79%. Struktur nilai ekspor pertanian ini masih didominasi oleh subsektor perkebunan. Artinya, potensi pasarnya masih amat besar khususnya komoditas pertanian hortikultura dan peternakan.

Jadi masih berpikir ulang untuk jadi petani?

  • Bagikan