Mengefektifkan Komunikasi di Sektor Pariwisata: Menyelamatkan Tenaga Kerja dan Kekayaan Kehidupan Bangsa

  • Bagikan

Oleh: Wahyu Budi Priatna*

Pariwisata merupakan sektor yang tidak saja sudah menjadi kebutuhan pokok kehidupan normal masyarakat, tetapi telah memberikan kesempatan bekerja kepada 34 juta orang termasuk ekonomi kreatif (Sandiaga S. Uno, 10 April 2021 Tribunnews.com). Dengan demikian, pariwisata mampu menggerakkan ekonomi suatu desa, wilayah bahkan suatu bangsa.

Pandemi covid 19 memang sangat berdampak pada parawisata, meskipun tidak secara langsung. Namun aturan pencegahan penularan Covid 19 dengan 3M apalagi 5M nya, telah mematisurikan parawisata. Hampir tidak mungkin, berwisata sambil berjarak atau tidak berkumpul antar anggota keluarga atau rombongan (orang tua/ panitia bisa pusing), sepasang teman dekat berwisata berjauhan, jadi aneh.

Parawisata juga mempunyai multiplier effect yang luar biasa pada sektor lain, tidak hanya ekonomi, dan sosial, tapi juga pada sektor lingkungan, keamanan, dan kesehatan bahkan kekayaan rohani. Hal ini mengakibatkan keberadaan atau ketiadaan pariwisata akan berdampak sangat luas.

Motif Berwisata dan Kebutuhan Informasi Parawisata

Orang berwisata pada umumnya untuk refreshing yang bisa menimbulkan berbagai hal yang positif. Motif refreshing sendiri mempunyai makna yang sangat luas dalam kehidupan masyarakat, tergantung apa yang akan direfreshnya. Hal ini mengakibatkan destinasi wisata memiliki beragam jenisnya. Seperti, orang kota ingin suasana pedesaan/pegunungan atau pantai, dan sebaliknya. Pada dasarnya, wisatawan mencari yang berbeda dari keseharian hidupnya, yang diduga akan mampu menimbulkan kedamaian dan kebahagiaan, setidaknya kegembiraan atau kesenangan, meskipun sering tergantung pada biaya yang dikeluarkan.

Keragaman motif berwisata memerlukan sumber informasi pariwisata yang kredibel, setidaknya Dinas Pariwisata. Informasi yang disajikan hendaknya bisa mengidentifikasi destinasi wisata secara akurat, dilengkapi klasifikasi, jenis atau kategori wisata yang bisa dinikmati sebagai ragam pilihan bagi para calon wisatawan. Kelayakan suatu destinasi wisata bisa dicermati dari daya tarik dan berbagai fasilitas wisata serta faktor pendukung lainnya. Informasi daya tarik wisata (keindahan dan keunikan alam atau karya manusia, aneka pertunjukan/atraksi, nilai ragam budaya/peninggalan sejarah atau perjalanan rohani, dll) perlu dilengkapi akses alat transportasi dan kualitas jalan ke lokasi, daya tampung lahan parkir, ketersediaan tim keamanan dan keselamatan, penginapan/hotel, ketersediaan tempat ibadah dan fasilitas kesehatan serta toilet bersih (tempat favorit, khas wisatawan Indonesia).

Berita Terkait  Kumpulkan Puluhan Rektor, Kemendes Mau Bikin Kampus Merdeka untuk Desa

Tidak boleh ketinggalan, informasi ragam kuliner lezat yang berkhasiat dan oleh-oleh hasil kreativitas penduduk, jaminannya tersertifikasi oleh instansi berwenang. Selain itu, perlu dilakukan penelusuran kearifan lokal sebagai informasi unggulan setiap destinasi wisata. Selanjutnya, perlu ada koordinasi atau kerjasama dengan berbagai pihak di tingkat wilayah/nasional atau internasional untuk menciptakan informasi paket-paket wisata yang tepat sasaran, tepat lokasi, tepat waktu dan tepat biaya.

Perhelatan/atraksi unggulan tiap destinasi wisata perlu dikemas secara apik, bahkan bila perlu di upgrade secara berkala, sehingga wisatawan merasa puas (kinerja pelaku pariwisata dapat memenuhi harapan/kepentingan para wisatawan). Kepuasan wisatawan akan menghasilkan informasi positif, yang segera tersebar sebagai testimoni valid, dan gratis.

Keselarasan Informasi dan Efektivitas Komunikasi

Menyelaraskan informasi dan mengefektifkan komunikasi sektor pariwisata di lingkungan Dinas Pariwisata daerah atau antara di Kabupaten/Kota dengan Provinsi/Pusat adalah keniscayaan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sudah sangat maju dan peralatan untuk akses informasi dan komunikasi ada di genggaman tangan para calon wisatawan. Ini kesempatan yang sangat berharga, bagi pihak-pihak yang berwenang menangani informasi dan komunikasi untuk melakukan sinkronisasi dan integrasi data kepariwisataan, dari desa-nasional bahkan internasional.

Perencanaan waktu perhelatan dikondisikan berkesinambungan. Indonesia sebagai negara yang demikian luas, dengan keragaman, keindahan, keunikan dan kekayaan alam, budaya dan karya penduduknya yang luar biasa harus membuat parawisata tidak ada matinya. Ini perlu disajikan dalam kalender parawisata yang mudah dipahami dan dimanfaatkan oleh wisatawan domestik dan mancanegara, serba digital dan ada dalam aplikasi sekali sentuh (paperless, dukung SDGs).

Upaya pemerintah dengan vaksinasi secara nasional yang nilainya bisa puluhan Trilyunan itu, harus menjadi modal bagi para pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk bisa bangkit secara sangat signifikan. Komunikasi dan koordinasi yang efektif perlu segera dilakukan. Hal yang terpenting selalu tertumpu pada SDM pariwisata, maka pelatihan-pelatihan yang terarah, kontekstual, berwawasan global dan berkarakter kewirausahaan serta berkesinambungan yang bersertifikat wilayah/nasional atau global akan memberikan bekal lebih untuk SDM pariwisata Indonesia.

Berita Terkait  Agrowisata Melon Cilegon, Oase di Tengah Padang Pasir

Pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia harus segera bangkit sebagai penyelamat tenaga kerja yang jumlahnya puluhan juta, dan terus bertambah. Meski libur panjang hari raya tahun ini masih belum menjadi rizki untuk dunia parawisata Indonesia.

*) Penulis adalah Dosen IPB University, yang juga sebagai Ketua Program Studi Komunikasi, SV IPB University.

  • Bagikan