Pendampingan Usaha Sarang Walet Picu Semangat Eksportir

  • Bagikan
Sarang burung walet.
Sarang burung walet.

WartaTani.co – Para petani dan pelaku usaha sarang burung walet (SBW) mengapreasiasi pendampingan yang dilakukan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kemeterian Pertanian (Kementan). Pendampingan yang diberikan dalam hal pengelolaan, perawatan, pengolahan, serta pemberian sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) terbukti sukses memicu pelaku usaha untuk mengekspor SBW ke mancanegara.

“Ditjen PKH Kementan sangat membantu dan komunikatif  sebagai fasilitator dengan pihak provinsi dalam rangka penunjukkan Pejabat Otovet (Otoritas Veteriner),” kata Ketua Umum Persatuan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN) Daniel Thong melalui rilis yang diterbitkan di Jakarta, Sabtu (23/1).

Daniel menjelaskan, aturan NKV untuk SBW sudah sangat baik dan bisa digunakan sebagai pintu awal untuk mempersiapkan perusahaan dalam menghadapi audit lokal maupun audit dari pembeli. Bisnis SBW di Indonesia yang memang cukup besar pun terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah perusahaan yang bergerak dalam proses pembersihan SBW dari tahun ke tahun.

“Hal ini juga dapat dilihat dari banyaknya calon eksportir yang mendaftarkan ke Badan Karantina. Apalagi, prospeknya juga masih bagus dan cukup luas karena banyaknya permintaan dari negara-negara luar,” ujar Daniel.

Menurut Daniel, PPSWN juga ikut berperan dalam menjaga kelestarian dan peremajaan pengelolaan serta pengolahan SBW. Misalnya, dengan memberikan edukasi kepada petani-petani SBW agar tidak memanen sarang burung muda/rampasan. “Selain merupakan tindakan yang dilarang oleh pemerintah, memanen sarang burung muda justru bisa menurunkan populasi burung walet yang ada,” kata dia.

Ke depannya, Daniel melanjutkan, PPSWN akan terus berupaya untuk menjaga kelestarian lingkungan agar burung walet mendapat habitat yang nyaman. Dengan begitu, burung walet dapat berembang biak dengan sendirinya dan burung walet mendapat pasokan makanan yang cukup.

Direktur Jenderal (Dirjen) PKH Kementan Nasrullah mengatakan, Kementan akan terus melakukan pendampingan kepada pelaku usaha SBW. Apalagi, SBW merupakan komoditas pangan asal hewan yang mempunyai nilai ekonomi dan nilai ekspor tinggi.

“SBW memang banyak diminati di mancanegara dan Indonesia merupakan salah satu pemasoknya. Maka, menurut saya, Indonesia siap ekspor sarang burung walet,” ujar Nasrullah.

Nasrullah menerangkan, sejauh ini Ditjen PKH telah selalu mengakomodir pelaku usaha SBW, baik dengan cara memberikan edukasi, sosialisasi, sampai memberikan sertifikat NKV sebagai jaminan keamanan produk SBW. Hal tersebut juga sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009 juncto UU Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Sampai dengan tahun 2020, tercatat sebanyak 74 unit usaha SBW telah mengantongi Sertifikat NKV. Dengan rincian, 72 unit usaha pencucian SBW, 1 Gudang Kering tempat pengumpulan SBW, dan 1 pengolahan SBW.

“Jadi, masyarakat dapat dengan mudah mengetahui produk sarang walet dari unit usaha yang sudah ber-NKV dengan melihat adanya logo NKV pada kemasan produk sarang burung walet,” kata Nasrullah.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, tren ekspor SBW memang meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir. Bahkan, selama masa pandemi covid-19 di tahun 2020 jumlah ekspor SBW tercatat sebanyak 1.155 ton dengan nilai Rp 28,9 triliun. Jumlah itu meningkat 2,13 % dari pencapaian di tahun 2019.

Karena itu, Mentan bersyukur karena Indonesia bisa menjadi pemasok SBW untuk banyak negara. Apalagi, sampai saat ini SBW yang diperdagangkan dan diekspor merupakan komoditas binaan dari Ditjen PKH Kementan untuk produktivitasnya.

“Ini adalah anugerah Tuhan untuk kita, tanpa perawatan khusus walet memberikan sumbangan devisa negara, manfaat kesehatan, dan pendapatan bagi petani,” ujar Mentan SYL.

  • Bagikan