Warga RW 04 Asrama DLH Tegal Alur Tanam Toga di Sepanjang Kampung

  • Bagikan
Kebutuhan terhadap obat-obat alami di pemukiman kampung mendorong warga RW 04 Asrama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tegal Alur, menanam tanaman obat keluarga alias toga. Istimewa

WartaTani.co – Kebutuhan terhadap obat-obat alami di pemukiman kampung mendorong warga RW 04 Asrama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tegal Alur, menanam tanaman obat keluarga alias toga.

Memasuki kampung yang berada di Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, itu suasana bersih dan rindang langsung terasa. Di sisi kanan dan kiri beberapa toga ditanam dalam pot.

Jenis tanamannya beragam, mulai dari pandan wangi, sirih, temu lawak, jahe, kunyit, gingseng, lengkoas, bidara, dan tanaman lainnya.

“Semua RT memiliki kebun toga. Di sini ada 8 RT,” kata Ketua RW 04 Asrama DLH Tegal Alur, Jamalludin kepada WartaTani.co, Kamis (20/8/2020).

Dia menuturankan, tanaman toga sudah lama ditanam warga. Tidak hanya di kebun milik setiap RT, tetapi banyak warga menanamnya di depan rumah.

Hasil dari menanam toga tersebut dimanfaatkan oleh warga sekitar. Paling tidak, toga ini sangat bermanfaat untuk sehari-hari, salah satunya sebagai pertolongan pertama jika badan sakit.

“Kalau ingin apa bisa langsung ambil saja,” ujarnya.

Selama ini, kekompakan warga menjaga lingkungan membut Asrama DLH Tegal Alur menjadi kampung asri. Bertepatan dengan HUT RI ke-75, pengurus RW 04 pun mengadakan lomba rumah sehat dan lingkungan asri. Lomba tersebut melibatkan 8 RT.

Jamalludin berharap dengan lomba tersebut warga semakin sadar dan termotivasi untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

“Lomba ini sebagai bentuk apresiasi kami pihak RW kepada para pengurus RT dan warga yang sudah peduli terhadap lingkungan,” kata dia.

Menurut Jamalludin, pemukiman padat dengan pekarangan rumah yang sempit tidak menyurutkan semangat warga untuk mempercantik lingkungan. Penanggulangan sampah juga dilakukan warga dengan memanfaatkan bank sampah.

Terlihat, sepanjang jalan dan gang, warga menanam tanaman dari biaya sendiri. Selain tanaman dalam pot, warga memanfaatkan polybag dan tanaman hidroponik yang tumbuh subur.

Berita Terkait  Solar Dryer dari Kementan Tingkatkan Nilai Tambah Produk Mangga di Tingkat Petani

Di sejumlah sudut pemukiman, warga juga menanam tanaman obat keluarga atau toga. Mulai dari pandan wangi, sirih, temu lawak, jahe, kunyit, gingseng, lengkoas, bidara, dan tanaman lainnya.

“Dari 8 RT ini masing-masing punya kolam gizi dengan budidaya ikan lele dan nila,” katanya.

Jalan setiap gang-gang dan rumah warga juga tertata rapih. Sebagian dicat warna-warni dan dibuatkan media permainan anak. Tidak kalah cantik, tembok-tembok rumah dan gang dicat mural.

Jamalludin mengaku, sejak menjabat ketua RW tujuh bulan lalu, dia bertekad ingin membuat kampung Asrama DLH Tegal Alur, semakin asri. Apalagi, penghuninnya adalah pegawai dan petugas di dinas lingkungan hidup.

Program lingkungan yang sudah digagas pengurus sebelumnya, kini dia teruskan. Dengan adanya lomba, dia berharap warga terpacu dan lebih semangat lagi menjaga lingkungan tempat tinggal.

“Awalnya, kami pengurus RW contohkan bangun pot taman, lalu RT mengikuti. Setelah merasa enak dilihat warga juga ikut. Dan akhirnya kami lombakan,” bebernya.

Kini, setiap rumah ada pot tanaman baik hias atau toga. Tidak ada ruang yang tersisa kecuali ditanami tumbuhan yang membuat suasana lebih asri. Di kondisi pandemi Covid-19 saat ini, warga juga melengkapi tempat cuci tangan di depan rumah.

Dia berharap dengan lomba ini juga bisa merubah mindset warga dari yang tadinya cuek menjadi lebih peduli lagi. Tidak hanya saat lomba bisa bersih, tapi merasa nyaman dan terus menjaga lingkungan.

“Untuk penilain lomba sendiri, kita melibatkan juri dari pihak Puskesmas dan Sudin LH Jakbar,” ujarnya.

Untuk rumah sehat yang dinilai adalah ventilasi rumah, ruang depan sampai belakang. Ada jentik di penampungan air atau tidak dan anggota keluarga di rumah tersebut seperti apa.

Berita Terkait  Kemendes Ajak Kementerian Lain Terlibat dalam Pembangunan Desa

Panitia lomba menyiapkan piagam yang diberikan ke semua peserta lomba. Untuk pemenang lomba yang digelar 8 sampai 20 Agustus itu, akan diberikan penghargaan berupa uang pembinaan jutaan rupiah.

Sementara itu, pengawas kebersihan Sudin LH Jakbar yang juga menjadi juri, Subarna Martadinata, menyebutkan ada beberapa indikator penilain. Salah satunya pengelolaan sampah dari setiap RT.

“Dalam satu RT kerjasama kelola lingkungan kita nilai. Misalnya, apakah sudah sampah diaelesaikan di tempat langsung,” katanya.

Sampah organik, misalnya, langsung diolah di tempat menjadi pupuk. Sedangkan sampah non organik disetorkan ke bank sampah atau dikelola menjadi barang guna pakai.

Unsur penilain lainnya adalah ketahanan pangan. Sejauh mana warga memanfaatkan pohon dan tumbuhan, sayur dan buah-buahan di lingkungannya.

Nantinya, kegiatan ini juga menjadi bahan penilain Sudin LH untuk mengujakannya mewakili DKI Jakarta di program kampung iklim (Proklim) dari Kementerian LH.

“Sampai saat ini Jakbar masih menymbangkan yang terbanyak di DKI Jakarta. Kegiatan lingkungan warga seperti ini harus kita dukung,” tutupnya. (yuz)

  • Bagikan