Kesiapan Desa Wisata di Tengah Resesi Ekonomi dan Pandemi

oleh

Oleh: Hudi Santoso*

WartaTani.co – Pandemi COVID-19 telah melumpuhkan sektor pariwisata tanpa terkecuali. Bahkan, 92,8% Desa Wisata merasakan dampak negatif dari Pandemi ini (Desa Wisata Institute, April 2020).

Lalu, bagaimana agar Desa Wisata bisa kembali bangkit dan menjadi lebih baik lagi di masa mendatang?

Saat ini kita dihadapkan ancaman resesi ekonomi, kita dapat melihat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di masa transisi yang sudah diterapkan hampir di seluruh wilayah di Indonesia sebagai kebijakan dari pemerintah guna menanggulangi pandemi COVID-19.

Dengan adanya masa transisi PSBB ini, tentunya banyak sektor-sektor yang terkenadampak negatif.

Salah satunya yang terparah adalah sektor pariwisata seperti desa wisata yang terpaksa ditutup, PHK massal, bahkan tidak sedikit bisnis wisata yang akhirnya gulung tikar, pertumbuhan ekonomi di desa menurun.

Pengunjung hotel, penginapan, home stay menurun, transportasi umum dibatasi, membuat industri pada sektor pariwisata kolaps.

Menurut Dirjend PDT Kemendes, sampai saat ini tidak ada yang bisa menduga kapan pandemi COVID-19 akan berakhir.

Masyarakat yang terdampak tentunya merasa dirugikan. Namunbukan berarti kita semua harus terus terpuruk. Justru optimismeadalah sikap yang harus diambil di saat seperti ini.

Dalam sektorpariwisata contohnya, Masa pandemi ini adalah kesempatan bagipara pelaku industri pariwisata untuk memikirkan kembali danberbenah.

Ini adalah saatnya mereka mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan pada kegiatan pariwisata dalam tatanan baru.

Para pelaku industri pariwisata perlu memerhatikan kembalipromosi, strategi pemasaran, Sumber Daya Manusia (SDM), juga sarana dan pra-sarana pada industri pariwisata yang dijalankannya.

Selain itu, mereka juga harus memerhatikan tren, dimana tren sebelum adanya pandemi COVID-19 ini adalahatraksi pariwisatanya, sedangkan pasca pandemi, destinasipariwisata merupakan sesuatu yang dibutuhkan masyarakatseperti pariwisata relaksasi.

Mengamati banyaknya masyarakatyang sudah bosan karena harus lama diam di rumah.

Maka
dari itu, hendaknya pelaku industri pariwisata menata kembali dayatarik wisata, atraksi pariwisata, sanitasi, kebersihan dan protocol kesehatan.

Survey mengatakan bahwa apabila masa pandemi ini berakhir, aktivitas wisata desa wajib untuk mengikuti protokol kesehatanyang ada.

Hal itu dapat diimplementasikan dengan menyediakan handsanitizer, air bersih, menyediakan toilet umum yang higienis, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Pemandu wisata atau tour guide juga hendaknya dipersiapkan dengan pelatihan dari instansi terkait agar dapat memandu ketertiban dari kebijakan tatanan baruyang ada.

Bagi kasus Desa Wisata, penambahan protokol kesehatan juga dapat menjadi solusi. Penambahan protokol kesehatan ini dapatdilakukan dengan Dana Desa.

Oleh sebab itu perlu juga adanyainstruksi dari Dinas Pariwisata Daerah dan Kementrian Desa(Kemendesa) dalam mensukseskan momentum tersebut.

Selain itu, Kesehatan serta waktu transit juga menjadi pertimbanganyang harus dipersiapkan oleh pelaku industri pariwisata.

Dana Desa ini dapat digunakan untuk melakukan tindakan preventifpenyebaran virus COVID-19 maupun penyakit lainnya, dapat pula digunakan untuk program Padat Karya Tunai Desa, dan juga untuk Bantuan Tunai Langsung (BLT).

Kegiatan pariwisata pasca pandemi ini nantinya akan menjadisarana relaksasi yang akan banyak diburu oleh masyarakat.

Saat ini, kita juga dapat memprediksi bahwa dengan pembatasan transportasi umum, masyarkat Indonesia pasti akan lebih memilih untuk bepergian ke tempat-tempat terdekat.

Hal ini pastinya akanmemengaruhi preferensi tujuan wisata, yang biasanya suka bepergian jauh keluar negeri, sekarang lebih memilih berwisata di daerah lokal.

Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa wisata domestik adalah hal pertama yang akan diserbu oleh masyarakat, seperti desa wisata.

Mengetahui hal ini, pelaku industri pariwisata harus mempersiapkan destinasi wisata yang ramah akan keluarga.

Selain memerhatikan protokol kesehatan, kinerja dari para pelakuindustri pariwisata juga harus diasah kembali, contohnya dengan pelatihan pemanfaatan media online yang dapat dilakukan dengan mengundang narasumber dari luar.

Harapan kita saat ini destinasi pariwisata tetap dirawat, agar desawisata siap untuk dikunjungi wisatawan. Mari kita sama-samamembangun sisi positif pada diri kita.

Pandemi ini bukan sesuatu yang menakutkan, pandemi ini merupakan masa agar kita dapat menanamkan kesadaran diri untuk lebih menjaga kebersihan diridan lingkungan di desa wisata.

Menurut Vitria Ariani pemerhati desa wisata, kita semua harus melek akan informasi, memantau berita-berita terkini dari media resmi mengenai pandemi COVID-19, kita harus sadar bahwa kondisi normal tidak akan sama lagi.

Semua protokol kesehatan akan dijalankan dalam dunia wisata. Maka dari itu, desa wisata tidak lagi hanya sustainable, tapi juga mitigasi.

Sesuai dengan penerapan tatanan baru pada kegiatan pariwisata yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparkraf), bahwa kita akan kembali pada dasar pariwisataSAPTA PESONA yang sesungguhnya.

Masyarakat Indonesia butuh panduan dan kebijakan yang sebaik dan seefektik mungkindari pemerintah. Maka itu, hendaknya pemerintah daerah terus berjuang, beradaptasi dengan kondisi baru ini.

Selain itu masyarakat juga berharap pemerintah pusat tidak jalan sendirisendiri seperti yang saat ini dilakukan oleh Direktoral Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Ditjen PDT) ini, yang diperlukan sekarang ini adalah koordinasi yang baik dankompak antara pusat dan daerah demi keberlangsungan kebijakan yang efektif bagi masyarakat.

*) Dosen Prodi Komunikasi, SV IPB University, mahasiswaS3 KMP IPB