Budidaya Ikan di Tengah Wabah Pandemi Covid-19 dengan Ruang dan Sumber Air Terbatas

oleh
Penulis : Dr. Wiyoto
Dr. Wiyoto, Dosen Program Studi Teknologi Produksi dan Manajemen Perikanan Budidaya

WartaTani.co – Penetapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) merupakan salah satu upaya pemerintah menekan penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) agar tidak semakin meluas. Pembatasan tersebut salah satunya adalah pembatasan terhadap pergerakan orang dalam suatu wilayah tertentu.

Pembatasan tersebut berdampak pada ruang aktivitas masyarakat menjadi terbatas. Biasanya aktivitas banyak dilakukan diluar rumah, namun dengan kondisi sekarang masyarakat dituntut untuk lebih banyak tinggal dan beraktivitas di rumah.

Perubahan pola kegiatan tersebut tentunya memerlukan proses adaptasi dan bagi sebagain besar masyarakat hal tersebut bukan sesuatu yang mudah. Kita ketahui bahwa sebagaian besar masyarakat Indonesia cenderung untuk bersosialisasi dengan orang lain khususnya di tempat kerja maupun dengan lingkungan tempat tinggal.

Bagi sebagaian orang, pembatasan interaksi dan rutinitas bekerja di rumah tentunya dapat membawa kejenuhan. Selain itu adanya rasa takut dan kecemasan dikarenakan ketidakpastian pandemik COVID-19 dapat menyebabkan stres, depresi, kecemasan, panik, dan gangguan perilaku.

Gangguan-ganguan tersebut dapat dikarenakan harus berjauhan dari keluarga, rasa kesepian, informasi yang salah dari media, ketidakmampuan keuangan dan stigmasi. Sebagai salah satu solusi untuk mengatasi gangguan tersebut adalah dengan melakukan variasi kegiatan selama tinggal di rumah.

Selain tetap bekerja di rumah, beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi kejenuhan dan stres adalah dengan memelihara binatang. Kegiatan memelihara binatang bisa membantu tubuh untuk melepaskan hormon oxytocin (hormon cinta) dan menurunkan level kortisol (hormon stres).

Kegiatan memelihara binatang seperti memelihara ikan adalah salah satu solusi untuk menghilangkan kebosanan selama bekerja di rumah. Kegiatan memelihara dan merawat ikan dapat memberikan kesenangan tersendiri.

Berdasarkan hasil penelitian, orang yang memelihara binatang termasuk memelihara ikan memiliki tingkat stres yang lebih rendah. Selain sebagai media hiburan, memelihara ikan juga sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan protein hewani secara mandiri.

Kegiatan memelihara ikan dapat disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang ada. Pemeliharaan ikan dapat dilakukan ditengah pandemik COVID-19 secara mandiri di rumah dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang kecil dan sumber air terbatas.

Keterbatasan sumberdaya tersebut dapat disiasati dengan beberapa alternatif pilihan sistem teknologi budidaya seperti sistem akuaponik, resirkulasi dan bioflok.

Ketiga teknologi tersebut dapat dipilih dan disesuaikan dengan ketersediaan sarana prasarana yang ada dan tingkat pengetahuan masyarakat dalam kegiatan budidaya ikan. Berikut adalah ulasan singkat untuk setiap sistem.

Sistem Akuaponik
Akuaponik merupakan kombinasi antara kegiatan akuakultur (budidaya ikan) dengan hidroponik yaitu memelihara ikan dalam wadah budidaya dan limbahnya dapat digunakan untuk memelihara tanaman dalam wadah yang sama atau terpisah.

Akuaponik juga merupakan sistem yang efisien dan ramah lingkungan. Dengan sistem ini kualitas air akan terjaga meskipun sedikit/jarang dilakukan pergantian air dan dapat juga dilakukan pada lahan dengan luasan yang terbatas.

Pada sistem akuaponik yang lengkap terdiri dari tiga bagian yaitu wadah budidaya ikan, filter biologi dan tempat untuk tanaman. Sistem yang lengkap tersebut memerlukan pompa untuk mengalirkan air dari wadah budidaya ke filter biologi dan ke wadah tempat tanaman.

Sedangkan pada sistem akuaponik yang sederhana dapat menggunakan wadah pemeliharaan ikan sekaligus tempat untuk memelihara tanaman. Selain itu dengan sistem sederhana dapat dilakukan dengan atau tidak menggunakan aerasi.

Untuk sistem yang tidak menggunakn aerasai dapat dipelihara ikan-ikan yang relatif tahan terhadap kadar oksigen rendah seperti ikan lele.

Sistem resirkulasi
Pada sistem ini deperlukan wadah yang terpisah antara wadah pemeliharaan ikan dengan filter. Sehingga sistem ini secara otomatis memerlukan pompa dan aerasi.

Proses sirkulasi air dilakukan dengan cara mengalirkan air dari wadah pemeliharaan ke sistem filter baik filter fisik maupun biologi dan selanjutnya dipompa kembali ke wadah pemeliharaan ikan. Dibandingkan dengan sistem akuaponik, pada sistem resirkulasi, limbah dari hasil budidaya diendapkan dan hanya difilter saja.

Sistem ini juga termasuk hemat dalam penggunaan air karena air dimanfaatkan kembali setelah melalui proses filtrasi. Selain memerlukan pompa, resirkulasi juga memerlukan aerasi sehingga energi listrik mutlak diperlukan.

Sistem bioflok
Sistem bioflok dilakukan dengan cara memanfaatkan limbah budidaya berupa amoniak dikonversi menjadi flok oleh bakteri heterotrof dengan adanya penambahan sumber karbon. Sumber karbon yang dapat digunakan adalah molase, tepung, dll.

Pada sistem ini diperlukan pengadukan dengan menambahkan aerasi kedalam sistem budidaya. Aerasi diperlukan untuk menjaga kadar oksigen tetap sesuai untuk pemeliharaan ikan dan untuk proses pembentukan flok dari ammonia yang merupakan hasil metabolisme ikan ataupun dari dekomposisi sisa pakan dan kotoran ikan.

Tidak semua ikan dapat dipelihara dengan sistem ini. Komoditas yang cocok untuk sistem ini adalah ikan nila untuk air tawar dan udang untuk komoditaas air payau. Sama halnya dengan sistem resirkulasi, kebutuhan aerasi merupakan hal yang mutlak.

Namun sistem ini lebih hemat ruang karena wadah budidaya dapat sekaligus sebagai tempat pembentukan flok sebagai sumber pakan. Selain itu dengan sistem ini maka kegiatan budidaya hanya memerlukan sedikit pergantian air dan kualitas air dapat terjaga.

Bedasarkan uraian di atas maka ketiga teknologi tersebut dapat dilakukan dengan kondisi lahan terbatas dan air terbatas disekitar pekarangan rumah.

Sistem yang paling sederhana adalah akuaponik dengan budidaya ikan lele. Lele yang dapat dipelihara dengan kepadatan 50-150 ekor/m2 dimana semakin tinggi kepadatan memerlukan perhataian lebih.

Namun demikian bagi pemula sebaiknya mulai dengan padat tebar yang rendah. Selanjutnya tanaman yang dipilih adalah yang relatif tahan terhadap paparan sinar matahari langsung dan ikan dapat dipanen setelah 2,5-3 bulan pemeliharaan.

​*)Penulis adalah Dosen pada Program Studi Teknologi Produksi dan Manajemen Perikanan Budidaya, serta Sekretaris Senat Sekolah Vokasi IPB