Sofyan Djalil: Saya Diminta Selesaikan Masalah Sengketa Tanah hingga Mafia Tanah

oleh
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil(Dok. Kementerian ATR/BPN)

WartaTani.co – Nama pria asal Aceh Sofyan A Djalil tentunya sudah tidak asing di telinga publik Indonesia. Ia kini menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang dan Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) RI di Kabinet Indonesia Maju kepemimpinan Presiden Jokowi-Maaruf Amin periode 2019-2024.

Sebelum menjabat Menteri ATR/BPN, Sofyan dipercaya Jokowi di tiga pos kementerian, yakni Menteri Koordinator Perekonomian pada 2014-2015, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Badan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada 2015-2016 dan yang terakhir Menteri Agraria dan Tata Ruang dan Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Sofyan pun sebenarnya sudah dua kali menduduki pos menteri di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yakni Menteri Komunikasi dan Informatika dan Menteri BUMN.

Dalam wawancara khusus bersama Tribun Network di Kantor ATR/BPN Jakarta, Kamis (26/2/2020), Sofyan mengakui bahwa ia tak hanya dekat dengan Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla (JK), namun dekat juga dengan semua orang termasuk yang baru dikenalnya.

“Saya dengan Pak JK dekat, dengan Pak Jokowi dekat, dengan siapapun dekat, dengan anda saja baru kenal hari ini rasanya sudah dekat,” kata Sofyan A Djalil sembari tertawa.

Namun demikian, Sofyan mengungkapkan ia tidak tahu alasan Jokowi menunjuknya menjadi Menteri Agraria dan Tata Ruang dan Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) di Kabinet Indonesia Maju.

Sofyan menceritakan, JK mengibaratkannya sebagai “Kunci Inggris.”

Kunci Inggris di sini menggambarkan kompetensi Sofyan, yang menurut cerita JK, bisa merambah masuk ke bidang apa saja.

“Pak JK mengatakan saya ini seperti kunci Inggris. Kunci Inggris itu kompetisi, oleh sebab itu harus sesuatu kita dalami dan harus ada interest untuk itu. Saya kenapa ditugaskan kemari sebenarnya saya tidak tahu,” kata Sofyan menceritakan.

Namun yang jelas, fokus utama Jokowi menunjuknya adalah untuk mengentaskan persoalan tanah yang dinilai luar biasa amburadul.

Mulai dari menyelesaikan masalah sengketa tanah, komplain tentang sengketa tanah dan memberantas habis mafia tanah yang masih berkeliaran di mana-mana.

“Pak Jokowi sangat concern tentang masalah itu,” katanya.

Sofyan menjelaskan, rakyat Indonesia sebagian besar sebenarnya punya tanah, tapi tidak punya sertifikat. Hal ini tentunya menimbulkan kerumitan apabila masyarakat ingin memulai bisnis dan tidak punya modal.

Walhasil, para pebisnis yang tak miliki sertifikat tanah itu lari ke rentenir untuk meminjam uang.

“Kalau tidak punya surat, mereka punya bisnis misalnya, tidak bisa pergi ke bank karena tidak ada jaminan. Maka mereka pergi ke rentenir, bayar mahal sekali,” tutur Sofyan menceritakan.

“Banyak pengusaha kecil kita itu yang uangnya, yang dia hasilkan dia bayarkan ke rentenir dari pada untuk kantong keluarga dia,” tambah Sofyan.

Untuk itu, dengan diberikan sertifikat, harapannya adalah agar masyarakat yang hendak mencari pinjaman bisa pergi ke bank.

“Kalau tadi bayar ke rentenir bayar bunga 10 persen per bulan, sekarang bayar ke bank itu setahun cuma 7 persen. Bahkan sekarang 6 persen per tahun,” kata Sofyan.

Sofyan menceritakan, Jokowi sejatinya sangat fokus dengan masalah pertanahan ini. Bukan hanya soal izin, tapi juga pentingnya sertifikasi pada tanah-tanah yang dimiliki masyarakat.

Sofyan mengatakan, Jokowi sangat mengerti betapa sulitnya berurusan dengan BPN.

“Pak Jokowi, sebagai pedagang, sebagai orang yang tampil dari bawah, meskipun beliau pengusaha, dia tahu benar bagaimana sulit benar berurusan dengan BPN,” ungkap Sofyan.

Oleh karena itu, diceritakan Sofyan, Jokowi meminta bantuan kepadanya dengan mengatakan, “Pak Sofyan mari kita bereskan BPN.”

Permintaan Jokowi itu tentunya sama dengan bagaimana Jokowi memerintahkan kepada semua menteri untuk membereskan setiap urusan di bidangnya masing-masing.

“Alhamdulillah saya pikir 5 tahun terakhir terjadi perubahan yang sangat signifikan,” kata Sofyan. (tribun)