Modal Rp 1 Juta, Mardiana Bisa Raih Omzet Rp 120 Juta

oleh
Penulis : Putra Aditya Pratama
Editor : Retno Priyanti
Mardiana petani jamur asal Makasar yang sukses mengembangkan bisnisnya. Foto Istimewa

WartaTani.co – Pekerjaan di sektor pertanian masih dipandang sebelah mata sebagian besar masyarakat. Bertani identik dengan pekerjaan kasar, kotor-kotoran, ataupun penghasilan rendah. Akibatnya, regenerasi petani terhambat, tak banyak anak muda yang tertarik bertani.

Tapi kondisi ini perlahan berubah. Setidaknya sejumlah anak muda yang terjun ke sektor pertanian berhasil membuktikan bahwa sektor pertanian ternyata bisa menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.

Mardiana, salah satu agropreneur komoditas jamur tiram asal Maros, Sulawesi Selatan. Mardiana menyebutkan saat ini bisnis budidaya dan pengolahan jamurnya sudah menghasilkan omzet RP 90 hingga Rp 120 juta setiap bulannya.

“Padahal awalnya modal saya cuma satu juta rupiah,” ungkap Mardiana dikutip dari Detik, saat menjadi pembicara Bincang Asyik Pertanian (Bakpia) di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa, pada Jumat (17/5/2019).

Usaha Mardiana sudah berlangsung selama sembilan tahun. Tiga tahun pertama, ia sempat kesulitan menembus pasar Makassar. Pada awalnya, pasar di sana belum menyambut positif produk jamur tiram yang dihasilkannya, karena bagi mayoritas masyarakat Makassar saat itu, jamur masih identik dengan racun.

Tapi Mardiana tak pantang menyerah. Dirinya yakin potensi untuk mengembangkan pasar jamur di Makassar masih sangat besar. Apalagi jamur sudah menjadi komoditas populer di Jawa dan Bali.

Maka pada tiga tahun pertama Mardiana fokus untuk membangun pasar bagi produknya. Berbagai strategi pemasaran dijalankan Mardiana agar jamur merang bisa diterima oleh masyarakat. Usahanya pun berbuah manis. Lima tahun terakhir, permintaan jamur Mardiana justru membludak.

“Saat ini produksi kami dua hingga tiga ton per bulan. Itu pun belum bisa memenuhi permintaan pasar. Padahal kami sudah bermitra dengan 30 petani. Jadi peluang untuk meningkatkan kapasitas bisnis masih sangat terbuka,” tuturnya.

Dilansir dari Indonesia Entrepreneur, Mardiana sempat bekerja di sebuah perusahaan besar. Namun dia malah memilih menggeluti budi daya jamur. Meski menghadapi ketidakpastian, semangat, keuletan, dan kerja kerasanya membuat alumnus Fakultas Teknik Universitas Hassanudin ini berhasil mengangkat jamur menjadi lahan bisnis yang potensial. Berkat jamur pula, Madiana dapat memberdayakan ibu-ibu rumah tangga dan mahasiswa.

Menurut Mardiana, jamur tiram, jamur merang, maupun jamur kuping sebagai komoditas pangan belum dikenal akrab di masyarakat. Di Sulawesi juga belum ada pengusaha yang mengembangkan usaha jamur. Ia pun mencoba menangkap peluang tersebut. Oktober 2010 silam dengan modal awal Rp 25 juta, Mardiana mulai merintis usaha budi daya jamur. Meski ternyata jalannya tak semudah yang dibayangkan.

Inspirasi untuk menekuni usaha budi daya jamur ini muncul ketika Mardiana teringat kampungnya, di Desa Taeng, Kecamatan Palangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di sana banyak penduduknya yang merantau. Akibatnya kondisi kampung jadi ‘mati’. Ada penduduk yang pulang merantau, tapi mereka tidak membawa perubahan banyak. Sejak itu, ia pun bertekad untuk menolong desanya.

Walaupun sudah mapan bekerja di LAPAN ( Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), Mardiana rela korbankan pekerjaan tersebut. Padahal, masuk kerja di lembaga tersebut cukup sulit, sementara ia malah memilih sesuatu yang belum pasti. Lalu, ia pun melakukan riset soal usaha apa yang cocok dikejakan di desanya. Ia berpikir, akan lebih baik jika mendapatkan usaha yang dibutuhkan orang tapi belum ada produsennya. Ternyata yang pas adalah budi daya jamur. Meskipun pasarnya sudah kelihatan tapi belum ada yang memproduksi.

Semua hal tentang ilmu budi daya jamur ia pelajari secara otodidak dengan mencari tahu sendiri di internet, berbagai literatur, dan video. Semuanya ia pelajari baik-baik selama 1,5 tahun. Ia pun juga memberdayakan ibu-ibu kampung agar lebih produktif. Mulanya memang tidak mudah mengajak mereka. Untuk mendapatkan kepercayaan dari ibu-ibu itu, Mardiana secara pelan-pelan berusaha menyesuaikan diri dengan budaya dan kebiasaan setempat.

Lalu ia juga memetakan potensi penduduk di kampung, membuat website agar mudah dicerna orang, juga brosur yang tepat sasaran agar orang tidak sekedar membaca lalu membuangnya di jalan. Kini, ibu-ibu tersebut malah sering diminta menjadi narasumber untuk pelatihan. Begitulah cara Mardiana menghargai mereka. Perusahaan yang dinamakan Celebes Mushroom lalu didirikan pada Oktober 2010. Produksinya dimulai sejak Januari 2011. Celebes adalah produsen jamur di Makassar khususnya untuk jenis jamur tiram, kuping, dan merang.

Keunggulan dari jamur-jamur tersebut adalah pembudidayaannya dilakukan dalam media tanam bahan organik tanpa pestisida. Kondisinya pun masih sangat fresh karena lokasi budidaya dekat dengan konsumen yang bermukim di wilayah Makassar dan sekitarnya. Jamur juga memiliki cita rasa yang enak, bernilai gizi tinggi, dan bermanfaat bagi kesehatan, serta dapat diolah menjadi berbagai macam menu masakan yang lezat.

Jamur pun juga dapat menyembuhkan penyakit, terbukti dari banyaknya klinik herbal yang memesan jamur karena merupakan makanan sehat. Kandungan tertentu dalam jamur dipercaya dapat menurunkan gula darah dan kolesterol, mencegah tumor dan kanker, menetralisir racun dalam makanan olahan, mencegah radang usus, menurunkan tekanan darah, serta antikarsinogen.

Menurut Mardiana, masyarakat Makassar dan sekitarnya masih sangat perlu diedukasi agar terbiasa mengkonsumsi jamur. Beruntungnya, saat ini banyak mahasiswa yang membantu usaha Mardiana dalam hal edukasi. Tak heran banyak mahasiswa yang melakukan penelitian tugas akhir di Celebes Mushroom. Di Makassar sendiri, jamur lebih dikenal dengan nama pippisi atau dalam bahasa bugis, pippi.

Pernah terjadi beberapa kali ada yang berusaha meniru produk Celebes Mushroom, tapi tidak pernah berhasil karena ada beberapa faktor, salah satunya mereka tidak tahan banting. Ada juga yang berusaha menyaingi usahanya. Tapi menurut Mardiana, bisnis yang bergerak di bidang pangan ini, orang yang mengerjakannya tidak boleh serakah ingin memproduksi sendiri, tapi harus melibatkan banyak orang. Maka, Mardiana tak pernah menganggap mereka sebagai pesaing karena pasar jamur masih besar.

Jadi yang paling pas adalah saling bermitra dan tolong menolong untuk memenuhi permintaan pasar tersebut. Walaupun bisa dibilang di Makassar, sampai saat ini baru Celebes Mushroom yang memproduksi aneka jamur. Jika tahun 2011 hanya memproduksi 2 kilogram per minggu, sekarang jumlahnya sudah mencapai 5 kilogram per hari. Produksi memang dilakukan secara pelan-pelan tapi pasti dan selalu laku. Bahkan menurut Mardiana, masih banyak pesanan yang datang yang belum sanggup dipenuhi.

Selain memproduksi jamur segar, Celebes Mushroom juga memproduksi baglog jamur, yaitu media yang siap untuk ditanamkan jamur. Juga ada bibit jamur dengan media jagung yang dimasukkan ke baglog jamur hingga bisa menghasilkan banyak baglog jamur. Lalu ada juga jasa pelatihan dan konsultasi seputar pembibitan, pembudidayaan, dan pengolahan jamur untuk dikonsumsi. Dari kegiatan tersebut, tahun 2013 Celebes Mushroom mendapatkan perhatian dari program CSR (Corporate Social Responsibility) Otoritas Moneter Bank Indonesia, untuk usaha kelompok budi daya jamur tiram.

Alasannya terpilih, karena usaha ini ada prospeknya, sudah memberikan dampak kepada masyarakat sekitar, dan berkontribusi kepada dunia pendidikan. Tempat budi daya jamur yang dikelola pun tidak pernah sepi dari mahasiswa yang sedang melakukan praktik dan penelitian. Mardiana pun juga kerap menularkan virus kewirausahaan kepada pemuda-pemudi dan masyarakat. Berkat itu pula, akhirnya ia mendapatkan bantuan untuk kebutuhan transportasi dan alat pembibitan dari Bank Indonesia.

Saat ini Celebes Mushroom sudah mulai membuat bibit sendiri. Kepercayaan orang pun jadi meningkat, yang tadinya dipandang sebelah mata sekarang sudah tidak lagi. Berkat pasar yang bagus tersebut, orang pun makin banyak yang percaya memakai produk Celebes Mushroom. Yang paling fenomenal adalah, adanya reseller yang tadinya pelanggan rumah tangga biasa, kini menjadi pedagang jamur. Mardiana juga bermitra dengan petani yang dulunya belajar di tempatnya. Tentu saja tidak semua dari mereka bisa bertahan di usaha budi daya jamur. Ada yang hanya produksi kecil seitar 5 kilogram. Namun menurut Mardiana, berapa pun jumlahnya kalau sudah bisa bertahan, itu sudah sangat bagus.

Di luar itu, Mardiana juga pernah menjadi tiga besar untuk wilayah Sulawesi dalam program teve berjudul Berani Jadi Milyarder. Ini adalah ajang dan kesempatan untuk calon entrepreneur yang ingin membangun bisnis bersama. Awalnya, ia sempat tidak yakin bisa masuk dalam acara itu, tapi ternyata proposalnya berhasil lolos dari sekitar 300 peserta yang mendaftar. Menurut peyelenggara, ia bisa terpilih karena prospek bisnis dari budi daya jamur, sudah mendapat kepercayaan dari masyarakat sekitar.

Para mahasiswa yang berkunjung ke tempatnya, biasanya mereka tertarik dengan ide Mardiana untuk meneliti bahan dasar jamur atau pupuk yang tersebar di mana-mana. Misalnya, serbuk gergaji kayu yang selama ini masih dianggap sampah, di tempatnya Mardiana bisa menunjukkan bahwa sampah tersebut akan ada nilai tambahnya. Begitu juga dengan kotoran cacing, yang ternyata adalah pupuk organik yang paling berkualitas. Menurut Mardiana, produksi budi daya jamur ini bisa meningkat hingga 100 persen hanya dengan pemakaian cacing. Dengan demikian, Mardiana pun tak perlu memakan banyak biaya untuk melakukan penelitian, karena sudah dibantu para mahasiswa.

Usaha Mardiana pun mendapat dukungan dari sang suami, Muh. Zakir, yang memiliki latar belakang di multimedia. Awalnya, karena ia belum mampu menggaji orang, ia dan suaminya pun harus bekerja sendirian. Pekerjaan itu mereka mulai pada pukul 20.00 dan baru selesai tengah malam. Mardiana mengaku, sempat merasa khawatir ketika sudah beberapa bulan mencoba bisnis jamur ini, tapi belum menghasilkan apa pun. Namun, sang suami terus meyakinkannya kalau usaha ini akan berhasil dan memintanya tetap sabar.

Untuk menemukan jurus jitu dalam melakukan usaha budi daya jamur, Mardiana pun mempelajari kondisi tanah di Jawa yang jelas berbeda dengan di Sulawesi. Selama 2 tahun ia terus mencari formula yang pas. Sempat menemui kegagalan ketika kadar air salah satu jamur terkontaminasi, karena terlalu banyak orang yang ingin melihat. Menurut Mardiana kendala seperti itu jangan sampai membuat langkahnya berhenti, tapi harus mencari tahu penyebabnya agar tidak terulang lagi.

Mardiana membagi tips untuk pemula yang ingin berbisnis. Bahwa semua usaha itu pasti membutuhkan kesuksesan. Maka di awal harus punya komitmen yang kuat, apa pun yang terjadi ke depan tidak boleh mundur. Meski 2 tahun pertama banyak kendalanya, namun kalau komitmennya kuat apa pun halangannya pasti selalu ada solusinya. Begitu juga ketika tidak memiliki dana untuk mewujudkan impian, bisa dengan mengajak teman untuk bekerja sama. Pilihlah teman yang cerdas, jangan sampai mereka justru akan menggerogoti diri sendiri.

Karena teman itu memang bermacam-macam. Ada yang maunya langsung mendapatkan keuntungan tanpa mau melihat kesulitan yang dihadapi. Menurut Mardiana, teman yang seperti itu akan sangat mengganggu. Sebuah bisnis yang ingin berkelanjutan juga harus bisa berubah. Begitu pun saat pasar sudah jenuh, harus punya konsep lain. Misalnya, bukan mustahil bila kelak ia akan melakukan ekspor jamur yang permintaannya kini terus menanjak.
kreatif dan perlu ditiru anak muda lainnya,” seruny