Plastik dan Ecosophy (Habis-2)

  • Bagikan
sampah plastik
ocean.si.edu/Bangkai burung laut yang ditemukan di Midway Atoll Pasifik

*Oleh: M. Asyief Khasan Budiman

(Peneliti di Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB)

Belakangan muncul paradigma yang lebih segar dari sebelum-sebelumnya. Paradigma ini ialah kelanjutan dari pandangan ecosentris atau deep ecology. Pandangan yang disebut sebagai Ecosophy ini mengusung tentang bagaimana sisi spiritual dan sosial budaya juga menjadi point of interest dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Pendekatan-pendekatan teknis-mekanistik yang kadang menjadi jebakan tersendiri di lapangan harapannya akan lebih banyak dihindari. Bentrokan antara aturan negara dengan aturan adat atau agama yang sering menjadi polemik persoalan di lapangan harapannya menjadi hal yang bisa ditiadakan.

Paradigma ecosophy ini juga memuat bagaimana hubungan antara personal – intra personal, baik secara materi maupun immateri. Sehingga sisi ruhaniah yang terdapat dalam diri manusia dapat terangkat dengan sendirinya yang dimanifestasikan dalam tindakannya terhadap segala yang ada di dunia ini.

Ecosophy ini memang didasarkan pada pemikiran keseimbangan antara manusia dengan alam. Paradigma ini menterjemahkan manusia dengan alam merupakan sebuah satu kesatuan yang satu dengan lainnya saling memiliki ketergantungan dengan semangat ruh suci yang terkandung pada jiwa manusia dan alam di sekitarnya. Faktor pembeda antara ecosophy dengan ecosentris ialah pada sisi spiritualitasnya. Bila pendekatan dalam ecosentris pada sisi teknis-mekanistik, pada ecosophy lebih menggunakan pendekatan spiritual-budaya.

Pada sisi praktis pendekatan ecosophy terbukti lebih menyentuh masyarakat yang diposisikan sebagai aktor utama dalam tiap kebijakan pembangunan. Energi sosial budaya masyarakat yang mengendap dan berpotensi untuk menjadi pemantik percepatan pembangunan di suatu wilayah dapat lebih dimunculkan. Oleh karena itu ecosophy dianggap paling dinamis untuk merasuk dalam struktur sosial budaya di dalam masyarakat. Paradigma ini dapat merasuk melalui tetua – tetua adat atau tokoh – tokoh masyarakat yang dianggap mumpuni dalam sebuah masyarakat.

Selain itu juga dapat merasuk pada kaum muda yang memiliki pemikiran dinamis dan berani untuk mendobrak pemikiran – pemikiran tua yang sudah tidak relevan dengan keadaan. Akhirnya pandangan ini pun sama – sama bertumpu pada ruh spiritualitas seseorang yang kemudian menyebar kepada sebuah kelompok masyarakat tanpa meninggalkan nilai – nilai luhur pada sebuah peradaban.

Penerapan di Era Kekinian

Paradigma baru ini secara optimis diyakini menjadi sebuah solusi dari persoalan-persoalan yang terjadi di tahap implementasi pengelolaan lingkungan hidup. Secara partisan, masyarakat yang memiliki kultur sosial budaya di lapangan menjadi arus utama dalam kebijakan-kebijakan yang ditelurkan oleh pemerintah setempat. Hal ini dapat menjadi sebuah strategi yang bijak dengan memanfaatkan energi sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat.Pengambil kebijakan, terutama dari kalangan pemerintahan sudah semestinya lebih bisa memahami dan memaknai paradigma lingkungan hidup dalam nalar berpikirnya.

Berita Terkait  Perusahaan yang Kurangi Sampah Dapat Penghargaan dari KLHK

Ecosophy merupakan bentuk sinergis dan win-win solution atas berbagai macam mazhab dalam paradigma gerakan lingkungan hidup. Secara eksplisit paradigma ini mengakomodir para pegiat dengan mazhab antroposentris, biosentris, dan bahkan ecosentris/deep ecology.

Pada perkembangannya produk turunan dari gaya pemikiran ecosophies ini orang akan cenderung lebih religius dan mendorong pegiat untuk lebih menyelami ruh kejiwaan dari pribadi hingga masyarakat. Poin yang ingin dituju dari cara pandang ini ialah mengangkat sisi kearifan tradisional suatu budaya. Kearifan ini muncul dari proses panjang di lingkup sosial-budaya-spiritual suatu masyarakat yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Masyarakat barat modern yang memiliki kecenderungan pemikiran yang sekuler tentunya lebih mengedepankan sisi rasionalisme, empirisme, dan logika dalam tiap langkah taktisnya. Namun, di balik itu ada sisi kepercayaan dan keyakinan spiritual yang dinihilkan. Hal ini didasari oleh dogma sekulerisme yang telah berkembang di eropa semenjak abad pertengahan akhir atau di masa renaisance. Tentunya penerapan hal tersebut di Indonesia yang memiliki adat ketimuran akan membahayakan cara pandang ketimuran kita.

Bukannya berkontemplasi untuk mengambil suatu keseimbangan pemikiran, bila kita hanya membebek pada pemikiran sekuler saja maka kita pun akan kehilangan jati diri kita sebagai bangsa. Oleh karena itu dalam membentengi sekulerisme tersebut, memunculkan sisi sosial-budaya-spiritual dalam tiap gerakan lingkungan hidup merupakan sebuah keniscayaan.

Namun di sisi lain kita pun tidak kalah pula dalam mempelajari bagaimana cara kerja teknis-mekanistik guna mempermudah kerja – kerja dalam tiap gerakan dan pembangunan.

Sebagai bangsa yang memiliki nilai luhur kebudayaan serta sisi spiritual yang kental tak sepantasnya mengesampingkan sisi spiritual kita. Sisi spiritual ini yang dimaksud ialah dari sisi keagamaan maupun sisi sosial kebudayaan. Justru nilai-nilai spiritual tersebut perlu kiranya digali lebih dalam guna mengungkap keutamaan-keutamaannya untuk diterapkan pada kehidupan keseharian kita.

Selain itu di lain pihak sebagai anggota masyarakat modern juga tak bisa kita meninggalkan sisi rasionalitas, empirisme, dan logika dalam berpikir.

Hal tersebut tentunya digunakan dalam memandang persoalan-persoalan lingkungan hidup. Jadi praktisnya kita sudah semestinya bisa memainkan peran dan pola dari berbagai mazhab pemikiran agar kita tak terjerumus pada fanatisme sepihak yang membutakan mata dan akal sehat kita.

Pada tahap praktisnya kampanye – kampanye yang sering dilakukan oleh para pegiat konservasi tentunya harus disertai dengan data yang akurat dan kredibel. Hasil-hasil penelitian dan pengamatan lapang semestinya bisa disumbangkan menjadi tren baru dalam kampanye lingkungan hidup. Kemudian sisi spiritualitas yang bersumber dari tuntunan agama-agama maupun nilai adat budaya bisa menjadi sumber inspirasi dalam menggali hubungan antara alam dengan manusia. Kesadaran spiritual seperti ini lah yang barangkali dicita-citakan oleh para tokoh adat maupun agama.

Berita Terkait  Gandeng APO, Kementan Bidik Peluang Generasi Muda Garap Pertanian Daerah

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dibekali akal dan pikiran semestinya memiliki kesadaran untuk tetap menjaga keseimbangan antara makhluk satu dengan yang lainnya, tak terkecuali manusia yang merupakan bagian dari alam raya ini.

Peran Pemerintah

Semenjak peralihan pemerintahan dari Hindia Belanda hingga sekarang, pengurusan mengenai lingkungan hidup silih berganti dengan berbagai pertimbangan. Tentunya salah satu pertimbangannya ialah perkembangan pasar ekonomi dan juga politik. Bila dirunut lebih dalam, segala keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan tidak akan jauh dari faktor politik yang dimotori oleh pasar ekonomi baik secara lokal maupun global.

Ada sebagian pihak yang meyakini mengenai peranan dunia bawah (baca: peran para mafia) yang juga turut mengatur jalannya pengurusan lingkungan hidup. Tidak bisa dipungkiri memang pengaruh pasar gelap pada produk kebijakan memiliki keterkaitan yang erat. Bagi aliran positivistik, kebijakan dan tata aturan perundangan digunakan untuk meminimalisir kejahatan-kejahatan yang berkaitan dengan perusakan lingkungan hidup.

Tetapi bagi sebagian yang lainnya menganggap justru berjalannya pasar gelap karena adanya tata aturan perundangan yang dibuat sedemikian rumitnya. Sehingga hal tersebut sangat berpotensi memungkinkan para pelaku dunia bawah dapat dengan leluasa melakukan kejahatan-kejahatan terhadap lingkungan hidup tanpa mendapat sangsi hukum apapun dari negara.

Tentunya sebagai negara hukum, Indonesia memiliki peran dalam mengatur masyarakatnya. Aturan – aturan yang cenderung birokratis dan memiliki proses panjang, menjadikan masyarakat mengalami kebingunan dan kebosanan tersendiri. Hal inilah yang kiranya memicu perilaku – perilaku free ride (melanggar aturan atas dasar keengganan mengikuti peraturan yang bertele-tele) kerap terjadi di masyarakat. Selain faktor aturan hukum yang berlaku, peran aparat pun menjadi kurang tegas lantaran sering terjadi tumpang tindih kebijakan yang membuat pelaksanaan suatu aturan menjadi terhambat.

Pesan Moral Penggunaan Plastik

Pada era kekinian kiranya belum terlambat bila penulis menyampaikan sebuah pesan untuk kita bersama. Penulis menganggap kita sebagai masyarakat perlu untuk memunculkan sisi kesadaran tentang keadilan pada lingkungan hidup, pada bumi yang kita pijak. Hal ini tentunya berkaitan dengan tanggung jawab manusia terhadap Tuhan yang telah memberikan berbagai macam karunia berupa kehidupan, akal, dan kesehatan. Tanggung jawab ini bukan semata – mata hanya untuk memenuhi perintah yang tertulis dalam kitab suci agama-agama, tetapi justru menjadi sebuah kewajiban karena kita merupakan manusia.

Kembali kepada bahasan penulis di awal yang membahas mengenai plastik. Tentunya setelah kita cermati bersama dengan pandangan ecosophy ini. Penggunaan plastik dalam kehidupan keseharian kita bukan sebuah hal yang diharamkan.

Berita Terkait  Dongkrak Produksi Beras, Riau Lirik Padi Gogo

Namun perlu kebijaksanaan dalam tindakan kita dalam menggunakannya. Kemudian apa dasar dari kebijaksanaan kita dalam melakukan tindakan – tindakan ini? Bila mencermati pandangan ecosophies ini, kiranya penulis mengajak masyarakat bersama – sama untuk menjadi pelaku utama dalam pengelolaan lingkungan hidup yang lebih baik. Utamanya dalam gerakan bersama menjaga lingkungan hidup agar tetap bisa menerima perlakuan adil dari kita sebagai manusia.

Pada kasus plastik kiranya kita bisa mengurangi penggunaan plastik yang berlebih. Penggunaan yang berlebih selain akan menjadikan plastik yang sebenarnya memiliki berbagai manfaat ini menjadi mubazir, juga bisa memicu kerusakan – kerusakan bila menelusurinya secara panjang. Selain itu plastik yang telah digunakan dan masih bisa digunakan kembali, tidak ada salahnya untuk dipergunakan kembali. Ada pula para pakar dan insinyur yang telah menciptakan berbagai macam mesin pengolahan plastik untuk dijadikan barang – barang yang lebih berguna. Hal ini tentu bisa diadopsi di tingkat masyarakat dengan dukungan dari pemerintah.

Peran legislatif di negara demokrasi ini juga tidak kalah penting. Para anggota legislatif sudah selayaknya memiliki pandangan ecosophy ini. Hal ini berkaitan dengan aturan perundang – undangan yang dilaksanakan pemerintah dapat terkontrol sesuai dengan semestinya. Selain itu paradigma ecosophy juga dapat mengangkat sisi spiritualitas dan kearifan dari tiap – tiap anggota legislatif guna bermusyawarah dalam menentukan arah pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah.

Terakhir, dalam tulisan ini penulis menegaskan kepada para pelaku usaha baik milik negara maupun swasta. Pada tulisan kali ini tidak banyak yang ingin penulis komentari. Pandangan ecosophy tentu menjadi jalan yang adil bagi para pelaku usaha agar bisa memberikan timbal balik positif terhadap alam yang telah menyokong usahanya.

Pelaku usaha yang memiliki motovasi utama dalam menggunakan sumberdaya alam sebagai modal dan bahan baku, sudah selayaknya memberikan pelayanan yang sebanding kepada alam raya yang telah memberikannya kemakmuran.

Pada pandangan tradisional, banyak dilakukan ritual – ritual adat guna membalas dewa – dewi yang memberi kemakmuran di suatu masyarakat. Pada era kekinian para pelaku usaha ini juga dapat memberikan balasan pada alam raya berupa turut memakmurkan masyarakat lokal sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati yang berada di wilayahnya.

Selain itu pelaku usaha juga sudah semestinya mengambil bagian dalam mengelola lingkungan hidup agar tetap terjaga dari kerusakan – kerusakan, minimal sekali dapat memeinimalisir kerusakan yang dapat terjadi. Mari kita bangkitkan ecosophy dalam diri kita guna keseimbangan alam raya ini.

  • Bagikan