Politeknik Enjiniring Kementan Gelorakan Genta Organik di kalangan Milenial

  • Bagikan

WartaTani.co – Gerakan Tani Pro Organik (Genta Organik) merupakan gerakan yang diluncurkan Kementerian Pertanian yang ditujukan untuk mengantisipasi penggunaan pupuk kimia yang mahal khususnya dikalangan petani.

Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) Kementerian Pertanian melalui Millennial Agriculture Forum secara khusus menggelorakan milenial untuk dapat sebagai pelopor penggerak pertanian organik.

Sesuai arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengajak para petani di seluruh Indonesia untuk meningkatkan penggunaan pupuk sendiri alias pupuk organik. Menurutnya, pupuk organik sangat dibutuhkan oleh para petani. Sebab, jumlah ketersediaan pupuk subsidi yang ada saat ini sangat terbatas.

“Belum lagi bahan baku pupuk seperti gugus fosfat yang sebagian besar dikirim dari Ukraina dan Rusia tersendat karena perang keduanya. Jadi yang tidak dapat pupuk subsidi segeralah menghadirkan pupuk organik,” ujar SYL sapaan Mentan.

Mendukung hal tersebut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan, Kementan telah meluncurkan Genta organik yang meliputi pemanfaatan pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah sebagai solusi terhadap masalah pupuk mahal. Gerakan ini mendorong petani untuk memproduksi pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah secara mandiri.

“Genta Organik sebagai solusi pupuk mahal diluncurkan dengan tujuan menyuburkan tanah, meningkatkan produksi pertanian, mengurangi penggunaan pupuk anorganik, menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan SDA, yang pada akhirnya mendukung terwujudnya Swasembada Pangan Nasional dan Kedaulatan Pangan Nasional,” tambah Dedi.

Untuk menggelorakan milenial dalam program Genta Organik, Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI) sebagai unit pelaksanan Teknik Pendidikan, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menyelenggarakan Millenial Agriculture Forum (MAF) Goes to Campus Edisi 45 (26/11) yang melibatkan lebih dari 800 peserta baik yang tergabung secara offline maupun secara online.
Dengan Menghadirkan para praktisi serta akademisi handal peserta sangat antusias mengikuti jalannya talkshow. Wayan Supadno praktisi pertanian yang akrab disapa Pak Tani mengatakan bahwa petani khususnya petani milenial adalah pahlawan pangan.

Berita Terkait  Pilih Jadi Petani, Wanita Asal Tutur Pasuruan Jadi Wirausahawan Sukses

“Petani adalah nyawanya pertanian. Bicara pertanian maka kita bicara pangan. Bagaimana keberlangsungan serta ketersediaan pangan ini dapat aman maka kita harus setia dan harus sejahtera. Solusinya adalah pupuk organik, dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang disediakan oleh alam maka kita juga dapat menjaga keberlangsungan alam ini dengan baik”, tegasnya.

Senada dengan Wayan Supadno, Akademisi IPB Rachmad Pambudi mengatakan bahwa terhitung sejak pandemi Covid-19 dimulai permintaan terhadap produk organik di berbagai negara ternyata mengalami peningkatan yang signifikan. Terlebih Pandemi ini telah membuat kesadaran banyak orang akan arti penting kesehatan jadi meningkat.

Fajar Gumelar salah satu alumni Politeknik Pembangunan Bogor adalah contoh nyata petani milenial yang telah berkecimpung langsung dalam usaha pupuk. Dirinya juga memotivasi agar mahasiswa Polbangtan/PEPI untuk menjadi job creator.

  • Bagikan