Iqbal Habibi Young Ambassador Kementan Buktikan Pertanian Menjanjikan Bagi Milenial

  • Bagikan

WartaTani.co – Sukabumi merupakan salah satu kabupaten yang memiliki potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia pertanian yang sangat potensial. Komoditas hortikultura, peternakan dan tanaman pangan cukup mendominasi hasil produksi pertanian dari daerah ini.

Maka tak salah bila Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) memilih Sukabumi menjadi salah satu lokasi YESS.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa Program YESS adalah salah satu terobosan yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) bersama IFAD untuk percepatan regenerasi petani. Program ini dijalankan untuk menghasilkan wirausahawan muda perdesaan di bidang pertanian dan menghasilkan tenaga kerja yang kompeten di bidang pertanian”, ungkapnya.

Dedi pun menekankan sudah saatnya pertanian dikelola oleh generasi milienial.

“Terlebih perkembangan pertanian khususnya di masa Pandemi Covid-19 menunjukkan tren yang sangat baik, ditunjukkan dengan usaha yang tetap beroperasi dan memiliki omset serta asset yang baik”, jelasnya.

Apa yang katakan oleh pria yang akrab disapa Prof. Dedi ini sejalan dengan keyakinan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa generasi milenial yang terjun di sektor pertanian berpeluang memiliki kehidupan dan ekonomi yang lebih baik, karena kreativitas ide dan kemampuan generasi milenial dalam memanfaatkan teknologi lebih baik.

Adalah Iqbal Habibi, pemuda asal Sukabumi yang memulai bisnis pertanian pada tahun 2018 dengan dokus pada komoditas hortikultura.

“Sebelum fokus pada komoditas sayuran, saya juga pernah mencoba trading tanaman hias, trading ikan cupang hingga budidaya ikan lele. Akan tetapi hanya bisnis pertanian hortikultura yang sampai saat ini saya tekuni. Tidak mudah memang memulai usaha bidang pertanian, banyak sekali tantanganya, bukan hanya masalah dilahan saja akan tetapi ada masalah lain yang berada diluar lahan yaitu omongan atau anggapan orang ketika kita sebagai pemuda menjadi petani yang selalu dianggap remeh, namun hal itulah yang menjadi motivasi saya agar terus belajar dan berkembang, untuk menunjukan kepada banyak orang bahwa pertanian adalah satu usaha yang menjanjikan, dan pemuda yang memutruskan untuk menjadi petani adalah hal yang benar”, tegas Iqbal.

Berita Terkait  Efek RUU Cipta Kerja, Wewenang Pemda soal Tata Ruang bakal Dihapus

Terlahir dari keluarga petani di desa Margaluyu Kecamatan Sukarajaik, Iqbal ingin membuktikan bahwa bertani itu keren, bertani itu menjanjikan, bertani itu sangat cocok pagi generasi millenial.

“Juni 2021 saya dan rekan-rekan mencoba membentuk kelembagaan yang berfokus pada pemasaran dan kemitraan pertanian yaitu koperasi pertanian dengan nama Koperasi Tani Mandiri Sejahtera Sukabumi.

Mengusung visi Koperasi Bersama Petani, kami berupaya membentuk wadah bagi para petani dalam memasarkan hasil pertanian para petani untuk meningkatkan kesejahteraan petani, karena salah satu masalah di dunia pertanian adalah pemasaran dan harga
jual, dimana banyak petani menjual hasil tani dengan harga yang tidak layak karena ketidak fahaman petani terhadap akses pasar.

Sampai saat ini kita sudah memiliki beberapa mitra pasar yaitu, Paskomnas, Edenfarm, Indofood, Segari, D’Top, Restoran Alam Sunda serta pasar lokal atau pasar tradisional”, rinci Iqbal.

Usaha Iqbal tak sia-sia, hingga saat ini sudah banyak petani yang menjadi mitra koperasi untuk memasarkan hasil pertanianya, dengan pola pendampingan dan sistem kepercayaan petani yang kita buat agar petani merasa nyaman dan aman ketika memasarkan hasil pertaninya melalui koperasi.

Ketika ditanya bentuk pemberdayaan dan upaya resonansi yang ia lakukan, Iqbal mengatakan selain aktif menjadi pengusaha pertanian, dirinya adalah ketua Himpunan Petani Muda Sukabumi.

Organisasi tersebut merupakan wadah bagi para pemuda pelaku usahatani, untuk berbagi, saling memotivasi dan sama-sama belajar demi memajukan pertanian.

“Sebagai seorang pemuda saya selalu haus akan ilmu untuk terus belajar meningkatkan kapasitas dan kapabilitas saya pada dunia pertanian, kemudian saya akan menyebarkan virus semangat bertani kepada para pemuda terutama pemuda desa, agar mereka mau dan ingin tetap tinggal didesa dan menjadi petani. Perlahan saya berupaya merubah mindset para pemuda terhadap dunia pertanian yang mungkin selalu dianggap ketinggalan jaman melalui sharing atau diskusi dan berbagi pengalaman selama saya menjalankan usaha pertanian, mengarahkan para petani muda agar mau terlibat aktif pada kelembagaan pertanian seperti kelompok tani, agar menjadikan poktan sebagai wadah silaturahmi, belajar dan berdiskusi mengenai budidaya pertanian yang baik, pemasaran hingga pengolahan pasca panen, agar meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan”, tutupnya.

Berita Terkait  Kementan Berikan Bantuan Integrated Farming Berbasis Korporasi

Melihat apa yang diraih oleh Iqbal, tak salah kiranya Kementan menjadikan dirinya satu dari 15 Young Ambassador Program YESS tahun 2022. Tanggung jawab besar pun berada dipudaknya, selain untuk terus mengembangkan usahanya ia pun harus melakukan resonansi tak hanya di wilayah Sukabumi namun juga di seluruh penjuru Indonesia.

  • Bagikan